SejarahBerdiri Dompet Dhuafa Republika Dompet Dhuafa Republika adalah lembaga nirlaba milik masyarakat Indonesia yang berkhidmat mengangkat harkat sosial kemanusiaan kaum Dhuafa dengan dana ZISWAF (Zakat, Infaq, Shadaqah, Wakaf, serta dana lainnya yang halal dan legal, dari perorangan, kelompok, perusahaan/lembaga). Merasakanlapar sebagaimana yang sering dialami oleh kaum dhuafa dan fakir miskin. Dengan berpuasa mendidik kita untuk memiliki empati, kepekaan dan kepedulian terhadap mereka. Perwujudan empati tersebut yaitu dengan saling memberi dan berbagi antar sesama. Memberikan zakat kepada orang-orang yang berhak menerima. Termasuk kepada dhuafa. Dalambahasa yang lebih bebas, "buat makan saja masih kurang". Mereka inilah golongan kaum dhuafa yang perlu dibantu. Rasulullah bersabda yang artinya: "Barang siapa yang menyisihkan harta untuk menghidupi para janda dan orang-orang miskin, maka pahalanya sama seperti berjuang di jalan Allah." (HR. Bukhari dan Muslim) Inipenting dilakukan agar dapat memaksimalkan waktu yang kita miliki ketika melakukan suatu penelitian. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini kami akan membahas tentang langkah pertama dalam pengolahan data yang wajib kita lakukan sebelum melalui beberapa langkah dalam pengolahan data. Jadi, jangan beranjak dan simak terus artikel DQLab ya SantuniKaum Dhuafa, Anniversary ke 25 BPR Gajah Mungkur "Tasyakur ulang tahun ke-25 telah kita selenggarakan Kamis lalu secara sederhana dengan pemotongan tumpeng serta tauziah dan doa dipimpin Ustdz Brigpol Eko Yulianto beserta 25 santri pondok pesantren Manjung. SE mengabdi 15 tahun. Sedangkan yang mengabdi 25 tahun adalah Antonia AlQur'an Berpihak Pada Kaum Lemah (Mustadh'afin) Dalam kenyataan hidup sehari-hari, tidak dapat dipungkiri bahwa ada orang kuat dan ada orang lemah, ada yang kaya dan ada yang miskin. Ada yang kuat, besar, kaya karena hasil usahanya sendiri, tetapi juga ada yang kuat disebabkan faktor-faktor lain di luar diri seseorang. . Oleh Muhammad Al Khaththath Rasulullah SAW menegaskan, "Bulan Ramadhan adalah bulan memberikan pertolongan" HR Ibnu Khuzaimah. Ramadhan secara etimologis artinya panas terik. Dan bulan Ramadhan, demikian orang Arab menamakan, adalah bulan yang musim gurun pasir sedang panas teriknya. Pada bulan ini, Allah SWT mewajibkan orang-orang mukmin berpuasa agar menjadi orang yang bertakwa. Pada bulan ini kaum Muslimin secara riil merasakan apa yang biasa dialami oleh kaum dhuafa, yakni lapar dan haus. Bedanya, kaum fakir miskin biasa kelaparan karena memang tidak ada yang dimakan dan diminum. Tetapi, kita sengaja berlapar-lapar sekalipun memiliki makanan yang cukup karena menjalankan perintah dan syariat Allah SWT demi menggapai pahala dan ridha-Nya. Dalam dimensi sosial, kita dilatih untuk memiliki jiwa solidaritas dan kepedulian sosial, khususnya kepada kaum dhuafa. Pernah seorang ulama salaf ditanya, mengapa disyariatkan puasa? Dia menjawab, "Supaya orang kaya bisa merasakan bagaimana rasanya lapar, agar tidak melupakan orang yang lapar." Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah beriman kepadaku diulang tiga kali, orang yang tidur kekenyangan di malam hari, padahal tetangganya dalam keadaan lapar sementara dia tahu keadaan itu." Ini adalah bulan solidaritas kaum Muslimin terhadap kaum dhuafa. Di samping merasakan lapar dan haus yang sama, kita juga disunahkan memberi makan orang yang berpuasa, khususnya fakir miskin. Tindakan ini, kata nabi, dibalas dengan tiga ganjaran, yaitu diampuni dosa-dosa, dibebaskan dari api neraka, dan diberi pahala seperti orang yang berpuasa tersebut. Tentu tak cukup makanan berbuka, kita perlu membantu kaum dhuafa dengan harta kelebihan kita untuk keperluan-keperluannya yang lain. Mereka perlu makan sahur. Mereka perlu bergembira di hari raya. Mereka ingin pula membahagiakan anak-anak mereka. Wajarlah Nabi SAW menyebut Ramadhan sebagai syahrul muwaasah, bulan memberi pertolongan. Oleh karena itu, di antara kita yang wajib zakat perlu segera memberikan zakatnya kepada mereka agar mereka bisa lebih kuat lagi dalam menapaki hidup dan bergembira menggiatkan ibadah pada bulan penuh berkah ini. Kita tentu tidak berharap bahwa mereka harus bekerja keras membanting tulang ke sana kemari tanpa hasil, penuh duka, dan putus asa, lebih-lebih bocor puasa. Kalaupun kita belum wajib zakat, perlu kita berikan sedekah kepada mereka. Dalam keterangan lain Nabi saw mengatakan, "Sebaik-baik sedekah adalah yang diberikan di bulan Ramadhan." Ya, kaum dhuafa biasanya tidak hanya minus dalam harta. Mereka umumnya minus pula dalam kesehatan, pendidikan, informasi, wawasan, dan keterampilan. Bahkan, bukan tidak mungkin mereka minus dalam pengetahuan syariah agama Allah SWT. Bagaimana menolong mereka sebagai rasa solidaritas kita sesama Muslim? Perlu ide-ide kreatif demi memberikan sebagian kelebihan kita untuk mengentaskan mereka. Perlu ada kemauan bersama dan solidaritas kolektif. Perlu ada gerakan bersama, yang bisa kita awali dari bulan Ramadhan ini untuk memberikan dorongan kekuatan kepada kalangan dhuafa agar mereka bangkit memperbaiki nasibnya. Perhatian, bantuan pemikiran, dan ide-ide kreatif, bantuan tenaga, bantuan wawasan, dan bantuan finansial untuk meningkatkan SDM mereka mudah-mudahan membuat mereka bangga dan bahagia. Mungkin bisa kita mulai dari menggiatkan buka puasa bersama, shalat lima waktu bersama, tarawih bersama, tadarus bersama, yang diisi dengan perbincangan maupun hal-hal lain untuk maksud di atas. Ukhuwah dan kebersamaan yang kita tumbuhkan dalam masyarakat lingkungan kita akan menjadi modal besar bagi kaum dhuafa untuk bangkit. Mereka merasa sendiri, apalagi kecil dan lemah. Islam mengajarkan agar kita senantiasa saling mengisi satu sama lain yasuddu ba'dluhum ba'dla. Islam mengajarkan kita untuk berserikat dalam berusaha dan berjamaah dalam hidup. Di situlah kekuatan kita. Nabi Muhammad bersabda, "Allah senantiasa bakal menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya." sumber Pusat Data RepublikaBACA JUGA Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Klik di Sini Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan rejeki pada hamba-Nya melalui berbagai cara. Cara tersebut tentu saja berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Bahkan, jumlah rejeki yang diterima pun didasarkan pada upaya yang dilakukan oleh masing-masing manusia. Namun, satu hal yang pasti memiliki kesamaan adalah kewajiban bagi kita untuk menyalurkan hak dari kaum dhuafa ketika Allah Ta’ala benar-benar telah menurunkan rejekinya yang berupa materi. Hal ini telah secara langsung diperintahkan Allah pada hamba-Nya seperti tertulis dalam al-Qur’an. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan Dialah yang menjadikan tanaman-tanaman yang merambat dan yang tidak merambat, pohon kurma, tanaman yang beraneka ragam rasanya, zaitun dan delima yang serupa bentuk dan warnanya dan tidak serupa rasanya. Makanlah buahnya apa-bila ia berbuah dan berikanlah haknya zakatnya pada waktu memetik hasilnya, tapi janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan,” QS. al-An’am 141 Ayat di atas adalah perintah Allah pada hamba-Nya untuk senantiasa berlaku peduli pada kaum dhuafa. Hal ini bahkan semakin utama dilakukan ketika kita diturunkan rejeki nyata berupa materi dari berbagai cara yang Allah Ta’ala kehendaki. Salah satu contoh dari cara turunnya rejeki tersebut adalah saat panen tiba. Panen sejatinya adalah kegiatan mengumpulkan hasil pertanian yang telah matang. Momen panen tidak akan pernah datang kecuali Allah yang menciptakan tumbuh-tumbuhan dan lahan pertaniannya. Maka dari itu dalam rangka mensyukuri nikmat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk berbagi hasil pada pihak-pihak yang membutuhkan. Hal ini juga merupakan wujud yang harus dilakukan manusia untuk tidak secara berlebihan menumpuk harta yang Allah karuniakan. Sejatinya kegiatan menumpuk harta dan enggan membaginya adalah ciri khas dari kaum kafir. Maka, sebaik-baiknya umat Islam hendaknya tidak meniru hal serupa yang dilakukan oleh golongan tersebut. Back to top button Berdasarkan pengertian secara bahasa, dhuafa artinya adalah lemah. Secara istilah, kaum dhuafa merujuk kepada golongan orang-orang yang hidupnya berada dalam keadaan miskin, tertindas, tidak berdaya serta mengalami penderitaan. Jika dilihat dari berbagai sudut pandang, maka lemah yang dimaksud dalam hal ini bisa mencakup Lemah dari segi sikap yang bukan diakibatkan karena malas belajarLemah dari segi fisik atau kurang tenaga. Bisa karena sakit, sudah tua atau cacat. Bukan karena sengaja bermalas-malasanLemah dari segi ekonomi. Mereka adalah orang-orang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari karena tekanan keadaan. Bukan karena malas atau tidak berusaha mencari nafkahLemah dari segi pikiran. Termasuk orang-orang yang kurang cerdas, bukan karena tidak mau menuntut ilmu. Golongan Dhuafa Adapun yang termasuk ke dalam golongan kaum dhuafa adalah 1. Anak-anak Yatim Anak yatim merupakan anak-anak yang ditinggal ayahnya dalam keadaan belum baligh. Di usia ini, mereka biasanya masih memerlukan bimbingan, kasih sayang hingga dukungan berupa materi. Nabi Muhammad menjanjikan surga bagi siapapun yang dengan ikhlas menggantikan posisi orang tuanya dengan memberikan apa yang mereka butuhkan. 2. Janda dan Orang-orang Miskin Ketika seorang wanita yang sudah menikah kehilangan suaminya, maka hilanglah orang yang menjadi tumpuan hidupnya dalam mencari nafkah. Janda-janda seperti ini termasuk golongan lemah yang patut dibantu. Hal yang sama juga berlaku untuk orang-orang miskin. Orang miskin sendiri merupakan orang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan tanggungannya termasuk istri dan anak-anaknya. Kebanyakan di antara mereka bekerja, namun penghasilannya tidak cukup untuk kebutuhan pokoknya. Dalam sebuah hadisnya, Nabi Muhammad bersabda, “Barang siapa yang menyisihkan harta untuk menghidupi para janda dan orang-orang miskin, maka pahalanya sama seperti berjuang di jalan Allah.” HR. Bukhari dan Muslim. 3. Orang-orang Fakir Jika orang miskin adalah orang-orang yang memiliki penghasilan namun kebutuhannya masih belum terpenuhi, maka fakir kondisinya lebih parah dari itu. Orang-orang fakir adalah mereka yang hidupnya sangat sengsara, tidak punya harta maupun tenaga untuk mencari nafkah. 4. Muallaf Muallaf atau orang yang baru memeluk Islam juga termasuk golongan kaum dhuafa. Meskipun secara fisik maupun harta keadaannya mencukupi, mereka masih dikatakan lemah dari segi keimanannya. Karena itu, mereka juga memerlukan bantuan baik berupa materi maupun non-materi. 5. Hamba Sahaya atau Budak Hamba sahaya atau budak merupakan orang-orang yang sangat lemah. Mereka bahkan tidak memiliki kemerdekaan dan kebebasan untuk mengatur hidupnya sendiri. Hamba sahaya biasanya juga tidak memiliki harta benda. Meski memiliki tenaga, mereka hanya bisa menggunakannya untuk keperluan sang pemilik. Saat ini sistem perbudakan sendiri sudah dihapuskan. 6. Korban Bencana Para korban bencana adalah orang-orang yang terkena musibah sehingga kehilangan harta dan jiwa yang mereka miliki. Korban bencana juga termasuk golongan lemah yang wajib dibantu. Baca jugaPengertian Shadaqah, Keutamaan, dan Macam-macamnyaManfaat Sedekah untuk Anak Yatim di Panti Asuhan Keistimewaan Menyantuni Kaum Dhuafa Salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk membantu kaum dhuafa adalah dengan menyalurkan sebagian harta yang kita miliki untuk kesejahteraan mereka. Seseorang yang menyantuni mereka dalam Islam mendapatkan keistimewaan yang besar. Beberapa keutamaan tersebut antara lain Allah SWT akan menyelamatkan mereka yang menyantuni kaum dhuafa dari berbagai kesusahan di hari kiamat, serta diberikan kegembiraan disaat mengalami kesulitan. Menyantuni kaum yang kurang mampu, terutama anak yatim dapat melembutkan hati seorang muslim. Kasih sayang yang diberikan untuk anak yatim dapat menghilangkan sifat buruk yang ada dalam diri manusia, contohnya kikir, dusta, iri, dan tempat di samping Rasulullah dalam surga. Mensucikan diri dari keserakahan. Hal tersebut karena menyantuni golongan kurang beruntung membuat seseorang menjadi menjadi rendah hati dan mulia, baik di mata manusia maupun di mata Allah. Untuk membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan, kamu bisa bersedekah secara mudah lewat aplikasi Kitabisa. Yuk, donwload aplikasinya sekarang! Pengertian Kaum Dhuafa – Istilah dhuafa seringkali kita dengar sebagai umat islam. Dhuafa mempunyai makna tidak berdaya atau lemah. Menurut istilah dhuafa mempunyai makna sebagai orang orang yang kehidupannya mengalami kelemahan, kesengsaraan, ketidakberdayaan dan kemiskinan. Maka keadaan yang demikian itu membutuhkan pertolongan dan uluran tangan dari orang lain untuk dapat terus bertahan hidup. Mereka lah yang dapat dilihat kelemahannya baik secara ekonomi,fisik maupun psikis nya. Pengertian Kaum Dhuafa Kata dhuafa bermula dari dh’afa atau dhi’afan yang memiliki makna lemah. Lemah dalam hal ini berkenaan dengan keadaan ataupun aspek kesejahteraan atau ekonomi. Seperti yang tertuang dalam ayat berikut “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah dhi’afan , yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka.”QS An-Nisaa’ 9 Dapat disimpulkan bahwa dhuafa bisa juga berarti kaum ataupun golongan yang lemah akibat dari kesewenang wenangan pemerintah atau sistem pemerintahan yang zalim. Akibat kesewenang wenangan dan sistem yang lemah ini melahirkan golongan masyarakat yang menjadi miskin secara struktural seperti banyaknya gelandangan, pengemis, anak yatim dan lain lain. Lalu Siapa Sajakah Kaum Dhuafa Tersebut ? 1. Orang-orang Miskin Orang yang dikatakan miskin adalah mereka yang secara jelas kekurangan harta dan finansial untuk memenuhi kehidupan dan kebutuhan pokok. Golongan ini berhak untuk mendapatkan pertolongan berupa zakat atau sedekah. Orang miskin juga termasuk ke 8 golongan yang berhak mendapatkan zakat atau sedekah. 2. Anak Yatim Anak Yatim adalah anak yang ditinggal mati oleh ayahnya saat belum dewasa. Mereka tergabung dalam kelompok karena masih membutuhkan kasih sayang, bimbingan, dan bantuan berupa materi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari atau sekolah – khususnya anak yatim piatu. 3. Penyandang Disabilitas atau Cacat Fisik Penyandang disabilitas atau cacat fisik biasanya mengalami kendala dan keterbatasan dalam mencari nafkah, apalagi jika keluarga tidak didukung. Karenanya,golongan dengan fisik yang lemah termasuk dalam kelompok dhuafa yang membutuhkan pertolongan. 4. Orang Lanjut Usia Orang lanjut usia, umumnya terkuras secara fisik dan mental. Dia tidak dapat bekerja lagi dan membutuhkan dukungan keuangan dan kebutuhan dasarnya. Mulainya, sedekah untuk para lansia juga sangat baik, apalagi jika sudah dianggap lansia. 5. Janda Miskin Seorang janda adalah seorang wanita yang suaminya meninggal dan saat ini hidup sendiri tanpa pendamping. Dalam keadaan tertentu, janda miskin biasanya tidak memiliki sumber penghasilan. Wanita seperti ini termasuk orang miskin yang berhak mendapatkan zakat atau sedekah. 6. Tenaga kerja Kasar atau Buruh Buruh atau pekerja kasar pada umumnya adalah mereka yang bekerja dengan kekuatan fisik dan dalam jangka waktu yang lama, namun dari segi penghasilan masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Orang yang bertingkah seperti ini bisa dikategorikan miskin dan butuh pertolongan jadi lebih intens. 7. Rakyat Kecil yang Teraniaya Misalnya, rakyat-rakyat yang teraniaya ini seperti saudara-saudari kita di Palestina. Mereka adalah golongan yang tanah airnya dijajah dan tidak memiliki kemerdekaan serta membutuhkan bantuan agar bisa bebas. Karena itu, rakyat yang teraniaya bisa termasuk orang miskin. Kaum dhuafa adalah golongan masyarakat yang hidup dalam kemiskinan. Berikut ini adalah cara menyantuni kaum dhuafa untuk meringankan penderitaan mereka. Pengertian Kaum Dhuafa Sumber gambar pexels Kaum dhuafa merupakan lapisan masyarakat yang hidup dalam kemiskinan, ketidakmampuan, dan ketidakberdayaan. Beberapa contoh orang yang digolongkan sebagai kaum dhuafa adalah fakir miskin, anak yatim piatu, orang yang ditelantarkan, dan orang dengan kecacatan Segala kondisi ekonomi ataupun mental yang lemah bisa menjadi faktor seseorang masuk ke dalam golongan kaum dhuafa. Orang-orang yang masuk ke dalam golongan dhuafa adalah orang dengan kondisi seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, bukan karena kemalasan mereka sendiri melainkan karena takdir dari Allah SWT atau kondisi yang di luar kendalinya. BACA JUGA 20 MANFAAT ZAKAT BAGI PELAKUNYA Menyantuni Kaum Dhuafa Sumber gambar pexels Sebagai umat muslim yang peduli dengan sesama—terutama saudara seiman, ada baiknya jika kamu membantu mereka yang tidak berdaya dengan menyantuni mereka selagi mampu. Tak hanya meringankan beban, dengan menyantuni kaum dhuafa maka kamu dipercaya bisa mendapat pahala dan niscaya akan terselamatkan dari api neraka. Lalu, bagaimana sih, cara membantu kaum dhuafa? Cara paling mudah untuk membantu kaum dhuafa adalah dengan memberi zakat kepada mereka dan jika mampu, menyantuni atau memenuhi kebutuhan dasar yang tidak dapat mereka penuhi sendiri. Menyantuni kaum dhuafa bisa dilakukan dengan berbagai cara. Cara paling mudah adalah dengan memberikan barang yang dapat berguna bagi kehidupan mereka dan meringankan beban serta penderitaan yang mereka rasakan. Kamu bisa memberi bantuan ke tempat yang menampung kaum dhuafa seperti panti asuhan yatim piatu. Bantuan yang diberikan bisa berupa benda ataupun harta. Sebagai contoh, kamu bisa mendonasikan baju bekas yang masih layak pakai, atau bisa juga kebutuhan sehari-hari seperti bahan makanan pokok. Barang-barang seperti buku pelajaran, buku tulis, dan peralatan belajar juga bisa jadi alternatif benda yang bisa didonasikan ke yayasan agar anak-anak yang ada di sana tetap dapat belajar dalam keadaan apapun. Jika belum mampu memberi bantuan atau santunan secara rutin, kamu tetap bisa membantu dengan membayar zakat per tahun untuk mereka yang membutuhkan. Intinya, semua bentuk bantuan akan sangat meringankan beban mereka dan niscaya kamu akan mendapat pahala serta dibebaskan dari api neraka. Selain itu, ketika bertemu dengan orang di jalan yang terlihat membutuhkan bantuan, ada baiknya jika kamu segera membantu. Baik dengan memberi sepeser uang atau mungkin makanan berlebih yang bisa diberikan. Sebagai orang dengan kondisi yang lebih beruntung dan mampu, tidak ada salahnya membantu dan menyisihkan sebagian harta bagi mereka yang sangat membutuhkan. Melalui Tokopedia Salam, kamu bisa berdonasi dengan kapan saja dan di mana saja secara online. Uang yang kamu donasikan nantinya akan disalurkan oleh lembaga penyalur donasi terperpercaya dan terdaftar resmi di Dinas Sosial Republik Indonesia. Kamu hanya perlu memilih ingin mendonasikan uang ke badan donasi pilihan kamu, lalu pilih nominal, dan uang donasimu akan langsung disalurkan. Jadi, tidak sulit kan, membantu kaum dhuafa dan meringankan beban hidupnya? Yuk, segera berdonasi dengan mudah dan aman di Tokopedia Salam. Penulis Humaira Daftar isiPengertian Kaum DhuafaCiri-ciri Kaum DhuafaGolongan Kaum DhuafaAdab Terhadap Kaum DhuafaCara Menyantuni Kaum DhuafaKali inii kita akan membahas mengenai Kaum Dhuafa, berikut bahasa arab kata dhuafa yaitu dh’afa atau kata lain dhi’afan yang artinya lemah. Menurut pengertiannya dhuafa merupakan orang yang lemah atau ketidakberdayaan secara fisik, finansial maupun dimaksud dengan ketidakberdayaan secara fisik, finansial maupun psikis yaitu orang yang mengalami cacat fisik atau mental, orang tua yang tidak mampu bekerja, orang miskin, orang sakit yang tak kunjung sembuh dan lain dhuafa merupakan orang yang lemah, tetapi lemah bukan karena malas belajar, malas mencari nafkah atau bukan karena malas untuk melakukan sesuatu yang penting bagi kehidupannya, melainkan malas karena keterbatasan kemampuan dan juga dipengaruhi oleh tekanan sesama muslim, kita wajib membantu mereka yang lagi membutuhkan. Kita harus menolong dengan ikhlas dan setulus hati tanpa mengharapkan balasan apapun dari mereka maupun pihak Al-Baqarah ayat 261 “ Tidaklah kalian ditolong dan diberi rezeki melainkan karena adanya orang-orang yang lemah diantara kalian” HR. Iman kaum dhuafa harus lebih diutamakan untuk dibantu apabila diri kita mampu untuk membantunya. Membantu untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari karena keterbatasan keadaan dan kemampuan mereka tidak harus besar atau sesuai target yang di tentukan, sekecil apapun bantuan kita kepada mereka maka akan mendapatkan pahala dan kebaikan dari Allah Kaum DhuafaDilihat dari keterbatasan kemampuan dan tekanan keadaan maka Ciri-ciri dan karakteristik kaum dhuafa dapat di jelaskan dari berbagai segi yaitu berdasarkan sikap, fisik, ekonomi, dan psikis sebagai berikut ini Orang lemah dilihat dari segi sikap yang bukan disebabkan karena malas belajar dan mencari lemah dilihat dari segi fisik atau karena tenaga yang sudah tidak mampu lagi untuk melakukan aktifitas seperti orang yang patah tangan dan kakinya, cacat mental dan orang tua yang lemah dilihat dari segi ekonomi atau tergolong ekonomi yang kurang mampu sehingga tidak dapat memnuhi kebutuhan pokok sehari-hari karena faktor tekanan keadaan. Sebagai contoh orang miskin, janda miskin, pengangguran, pengemis, dan lain lemah dilihat dari segi psikis yang sudah pada dasar dirinya sendiri bukan karena dibuat-buat atau disengaja menjadi contoh orang bodoh atau tidak cerdas, buntu pemikiran dan orang gila sehingga tidak mampu melakukan aktifitas seperti belajar dan bekerja karena disebabkan oleh keterbatasan kemampuan atau Kaum DhuafaBerikut ini termasuk orang-orang tergolong kaum dhuafaAnak YatimAnak yatim yaitu anak yang ditinggal ayahnya karena meninggal dunia sejak ia kecil atau bisa dikatakan belum baligh. Anak yatim perlu disantuni karena mereka membutuhkan kasih sayang, bimbingan, dan uluran tangan. Anak yatim biasanya hanya tinggal bersama seorang ibu, nenek, kakek atau anggota keluarga yang lain. Tetapi, jika anak yang sudah ditinggal oleh kedua orang tuanya dalam arti tidak memiliki ayah dan ibu karena dikarenakan meninggal dunia maka anak itu disebut yatim MiskinOrang miskin bisa dikatakan orang yang sudah memiliki pekerjaan tetapi masih belum bisa mencukupi kebutuhan dalam sehari-hari. Mungkin dapat disebabkan oleh tekanan keadaan, karena terlalu banyak anak atau anggota keluarga yang harus menjadi tanggungannya. Sedangkan dilingkungan masyarakat juga banyak kaum miskin yang membutuhkan uluran tangan baik dari orang lain atau masyarakat sekitar yang merasa mampu hingga mereka membutuhkan santunan dari bantuan golongan orang-orang tersebut tertimpa dengan kehidupannya yang menderita dan sengsara. Mereka yang fakir justru lebih terbebani hidupnya dibandingkan orang miskin. Sebagaimana orang fakir yaitu orang yang tidak memiliki tempat tinggal atau harta benda terkadang tidak memiliki sanak dan keluarga. Orang fakir biasanya hidupnya terlantar atau gelandangan, sebagian diantara mereka ada yang dipungut dan ditempatkan di panti asuhan atau panti yaitu orang yang berpindah agama, yang sebelumnya non muslim kemudian masuk agama islam. Muallaf bisa dikatakan mampu secara fisik maupun materil melainkan mereka masih lemah dalam segi psikis dalam arti tingkat keimanannya masih Musibah BencanaTerjadinya musibah itu dapat membawa dampak terhadap orang-orang yang terkena musibah tersebut. Mereka sebagian kehilangan rumah, apartemen, harta benda maupun sanak saudara atau keluarganya. Orang yang terkena musibah wajib di tolong karena kejadian tersebut sangat memprihatinkan dan membuat mereka hidup menjadi susah sebab sesuatu yang dimiliki sebelumnya di landa Terhadap Kaum DhuafaSeperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa kaum dhuafa terdiri dari golongan orang-orang yang lemah dalam segi fisik, materil maupun mental. Kaum dhuafa terdiri dari golongan anak yatim, fakir, muallaf, korban bencana dan orang-orang yang memiliki keterbatasan kemampuan kita terhadap orang dhuafa sebagai umat muslim maka harus saling menghargai dan menghormati mereka. Tentunya yang terpenting harus membantu dengan cara bersedekah apabila jika kita memiliki teman bahkan saudara yang mengalami cacat fisik, kurang mampu dalam segi ekonomi sebaiknya yang harus kita lakukan yaitu saling menghormati sebagaimana Menyantuni Kaum DhuafaBersedekah kepada orang-orang yang membutuhkan merupakan cara terbaik dalam menyantuni para kaum dhuafa. Bersedekah bisa dilakukan dengan cara mendonasikan uang atau barang-barang yang sudah tidak terpakai kita tidak dapat atau belum mampu memberi dan mendonasikan sesuatu maka dapat dilakukan dengan cara berzakat yang biasanya dilaksanakan dalam setahun sekali tepatnya pada bulan siapa yang sering bersedekah kepada orang-orang dhuafa atau yang sedang membutuhkan maka niscaya mereka yang bersedekah mendapatkan pahala dan berbagai macam kebaikan dari Allah Swt.“ Dari perut lebah itu keluar minuman madu didalamnya yang bermacam-macam warnanya, terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda kebesaran tuhan bagi orang-orang yang memikirkan.” QS. An-Nahl Ayat 69Kita sebagai manusia dapat belajar dari lebah, mereka memasukkan yang baik dan mengeluarkan yang baik. Lebah pekerja keras untuk menyerap sari bunga dan mengolahnya menjadi madu yang kaya akan mafaat bagi kesehatan tubuh hasil kerja kerasnya si lebah tidak memanfaatkan sendiri. Mereka tidak rakus dan tidak serakah bahkan dari total madu yang mereka hasilkan hanya di konsumsi sendiri sebanyak 10% dan sisanya 90% disedekahkan kepada manusia untuk kebutuhan hidupnya terutama untuk lebah ini dapat ditiru oleh semua manusia meskipun banyak seseorang yang hidup dengan bekerja keras, hasilnya atau keuntungannya tidak dimanfaatkan sendiriakan tetapi berbagi kepada orang yang lebih membutuhkan sehingga pahala yang didapatkan akan terus karena itu, bersedekalah walaupun sekecil biji zarah karena berapapun kita bersedekah akan mengundang banyak kebaikan. Sebagaimana hikmahnya bersedekah akan menghapus dosa, memperbanyak rezeki, menyembuhkan penyakit dan memperkuat iman.

kaum dhuafa yang wajib kita santuni lebih dahulu adalah yang